Siapkah Sekolah Membolehkan Siswa Membawa Gadget?

Spread the love

Pagi itu seperti biasa, dering bel sekolah berbunyi nyaring. Siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Jakarta Pusat masuk ke kelas masing-masing. Di bawah pengawasan wali kelas, mereka lalu mengumpulkan smartphone atau gadget bawaannya di meja guru untuk dimasukkan ke dalam dua kotak yang ada di kelas.

Mereka baru diperkenakan memakai gadget saat jam istirahat atau bila ada kegiatan belajar mengajar(KBN) yang memerlukan riset di internet. “Setelah istirahat dan KBN yang memerlukan riset online selesai, anak didik harus mengembalikan gadget ke meja guru. Baru setelah jam pulang sekolah gadget dikembalikan ke tangan mereka sepenuhnya,” kata Kepala Sekolah SMAN 3 Ratna Budiarti kepada Kompas.com, Jumat(8/3/2018).

Peraturan penggunaan gadget itu, lanjut dia, baru saja diterapkan pada tahun ajaran 2017-2018 setelah ada komitmen bersama guru, perwakilan murid, dan karyawan sekolah pada rapat kerja 2017. Menurut Ratna, pihaknya tak ingin penggunaan gadget di sekolah malah akan membuat siswa menjadi tidak fokus belajar. Namun, di satu sisi teknologi pada perangkat tersebut bisa bermanfaat untuk KBN.

“Oleh karena itu, kami akan mengawal agar penggunaan gadget dipakai seperlunya saja dan tidak berlebihan,” ujarnya. Kondisi serupa juga terjadi di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 39. Sebelum memulai proses belajar-mengajar siswa-siswi harus menyerahkan gadget ke wali kelas. Mereka baru bisa menggunakan bila ada KBN yang membutuhkan pemanfaatkan gadget dan harus mengembalikannya lagi ke wali kelas setelah kegiatan belajar mengajar itu selesai. Berbeda dengan SMA 3, siswa-siswi di SMPN 39 tetap tidak diperkenakan menggunakan gadget pada jam istirahat. Wakil Kepala Sekolah SMPN 39 Umar Panuju mengatakan pelarangan menggunakan gadget di sekolah memang menjadi hal yang dilematis.

Di satu sisi siswa memerlukannya untuk memesan ojek online sebagai moda transportasi, sementara di sisi lain bisa mengganggu KBN bila tak digunakan dengan baik. “Kami tidak bisa menghindari teknologi, tinggal sekolah bagaimana mengarahkan agar penggunaan gadget itu bisa positif. Maka dari itu kami mencoba untuk toleransi,” ucap Umar, kepada Kompas.com, Jumat(8/3/2018). Generasi Z lekat dengan gadget dan internet Pada zaman modern seperti saat ini, penggunaan gadget untuk menunjang aktivitas hidup sehari-hari memang sudah tak bisa terelakan lagi. Terlebih bagi siswa-siswi SMP dan SMA yang merupakan generasi Z. Generasi Z adalah mereka yang lahir pada era internet sudah meraja lela. Dalam “Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja”, dijelaskan bahwa orang-orang yang masuk dalam generasi tersebut adalah mereka yang lahir dalam rentang 1995-2012.

Sementara itu, artikel Kompas pada Kamis(4/1/2017) menulis bahwa generasi Z di Tanah Air yaitu mereka yang lahir mulai tahun 2000. Penilaian ini mengacu pada perkembangan internet di Indonesia yang penetrasinya masih minim sebelum tahun 2000. Anak-anak sedang menggunakan gadget di kelas(shutterstock) Makanya jangan heran, kalau anak-anak pada generasi tersebut sangat akrab dengan internet dan gadget. Tak cuma sekadar sebagai alat komunikasi dan hiburan, mereka juga menggunakan perangkat itu sebagai media untuk mempelajari hobi, mencari informasi, memecahkan masalah, hingga sumber inspirasi.

Maka dari itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus bisa berkawan bahkan bersahabat dengan teknologi informasi. Mereka juga bisa menggandeng teknologi sebagai pendamping siswa dalam belajar. Lagi pula, penggunaan teknologi informasi bukan barang baru lagi dalam dunia pendidikan Indonesia. Pada Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) misalnya. Ujian akhir untuk mengukur kemampuan akademis pelajar itu sudah dilaksanakan secara online pada sekolah tingkat menengah pertama dan atas. Namun, alangkah baiknya agar pengaplikasian teknologi tak hanya terbatas pada pelaksanaan ujian nasional semata. Melainkan pada keseluruhan proses belajar dan mengajar. Hal ini diperlukan agar anak didik bisa mendapatkan akses seluas-luasnya ke ilmu pengetahuan.

Bukan hanya itu, anak-anak pun akan menjadi akrab dengan alat belajarnya di sekolah karena sebelumya mereka sudah terbiasa menggunakan gadget dan internet di luar sekolah. Sementara itu, di sisi lain, guru mempunyai peran penting untuk mendukung dan memastikan anak-anak menggunakan perangkat teknologi tersebut secara tepat dan sehat. Dengan demikian, mereka bisa merasa bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan. Selanjutnya, anak-anak pun dapat lebih leluasa mengembangkan kemampuan sesuai dengan bakat dan minatnya, apakah itu matematika, sains, komputer, biologi, sejarah, arkeologi, fashion ataupun lainnya, sehingga diharapkan bisa menggapai profesi impiannya. Bukan hanya itu, siapa tahu saja, melalui cita-cita tersebut mereka bisa menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi banyak orang.

Sumber : Edukasi Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *