Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Danish Dutch English French German Greek Hindi Italian Japanese Korean Portuguese Russian Spanish

Cari Arsip Berita

Dari Duit Jajan, Ajari Anak Kelola Keuangan

 

 

 

Banyak orangtua kelimpungan saat membimbing anak-anaknya merencanakan keuangan. Padahal, pengenalan bisa dimulai saat memberikan uang saku harian alias duit jajan.

“Pemberian uang saku akan membiasakan anak memegang uang, mengambil keputusan keuangan, dan mengelola keuangan sendiri,” ujar Diana Sandjaja, perencana keuangan Tatadana Consulting dikutip dari Kontan, Kamis (14/1/2016).

Maka dari itu, kata Diana, hendaknya para orangtua berpikir pemberian uang saku bukan didasarkan pada memenuhi kebutuhan pribadi sang buah hati di sekolah saja, melainkan pembelajaran mengenai perencanaan keuangan juga.

Meski demikian, Diana mengingatkan bahwa pelajaran mengenai pengelolaan keuangan ini mesti bertahap.

“Seperti pelajaran di sekolah, (pembelajaran pengelolaan keuangan) ini harus bertahap. Pelajaran anak SD tentu berbeda dengan anak SMA. Begitu pula pemberian uang saku,” imbuhnya.

Bukan hanya nilai atau besar uang saku yang berbeda, Diana bilang, sistem dan tanggung jawab anak pada beda tingkatan juga mempengaruhi tahapan pembelajaran.

“Untuk anak kelas satu SD, misalnya, belum bisa membedakan nominal uang dan cara transaksi yang benar,” ujar Diana memberi contoh.

Pada usia itu, menurut Diana, orangtua bisa sesekali memberikan uang pada buah hati untuk sekali transaksi. “Tahap ini lebih bersifat pengenalan,” tambahnya.

Seiring kenaikan jenjang sekolah, anak juga bakal semakin pintar berhitung. Pada saat itulah, orangtua bisa mempercayakan pemberian uang saku sesuai kebutuhan anak. Misalnya, menyerahkan pengelolaan uang transportasi selain uang jajan harian.

Bahkan, bagi anak-anak di tingkat SMP, perlu juga diberikan uang saku untuk kebutuhan sosialisasi. Anak-anak pada usia ini umumnya sedang senang-senangnya berkumpul bersama teman, termasuk makan bersama atau menonton bioskop.

Biaya pulsa telepon bisa juga dimasukkan sebagai komponen uang saku. Pastikan saja, orangtua telah menakar masing-masing biaya yang dihitung sebagai bagian uang saku, agar pemberian duit ini cukup tanpa perlu berlebihan juga.

Jika kelihatannya anak bisa menganggarkan dengan tepat dan mampu mempertanggungjawabkan penggunaannya, orangtua sudah bisa memulai mengatur ulang frekuensi pemberian uang saku.

Perencana keuangan mengingatkan, pengaturan frekuensi pemberian uang saku juga harus bertahap dan disesuaikan dengan usia dan kesiapan anak dalam mengelola keuangan.

“Pemberian uang saku harian merupakan langkah awal bagi anak untuk belajar. Jika anak bisa mempertanggungjawabkan, berarti ia bisa naik tingkat ke sistem mingguan,” ujar Diana.

Pemberian uang saku bisa diperpanjang waktunya menjadi bulanan, lanjut Diana, bila anak terbukti bisa mengelola dan mempertanggungjawabkan duit jajan-nya saat diserahkan mingguan. Jika sebaliknya, uang jajan sudah habis sebelum akhir periode pemberian, anak belum siap mengelola keuangannya.

Pada kondisi anak belum siap, orangtua sebaiknya belum memperpanjang periode penyerahan uang saku. Jangan sampai frekuensi pemberian uang saku sudah diperjarang menjadi bulanan, anak malah sudah kehabisan duit pada tiga hari pertama bulan itu.

 

Menyimpan uang

Hal lain yang harus dikenalkan pada anak adalah menyimpan uang sisa. Jangan sampai, uang saku habis hanya untuk jajan.

“Tak ada salahnya juga pemberian uang saku mencakup anggaran untuk menabung,” saran Perencana Keuangan Janus Financial Dwita Ariani yang juga dikutip dari Kontan.

Dalam hal ini, orangtua juga perlu mengajarkan anak cara menyisihkan uang. Kemas cara itu jadi terlihat menarik. Contohnya dengan mengadopsi tantangan mengumpulkan uang dalam 52 minggu yang santer di media sosial pada 2014.

Inti permainan, seseorang ditantang memiliki perencanaan keuangan yang tertib. Mereka harus menyisihkan uang dengan tambahan kelipatan tertentu tiap pekannya, selama 52 minggu. Bila dijalankan, uang yang terkumpul ternyata cukup mengejutkan juga jumlahnya.

Misalnya, saat memutuskan menyimpan Rp 5.000 pada minggu pertama, uang terkumpul Rp 6,89 juta pada akhir tahun. Coba saja terapkan tantangan itu pada anak.

Mereka bisa memulai dengan nominal yang paling kecil, sebut saja Rp 1.000. Saldo akhir yang bisa didapat adalah Rp 1.378.000. Saat anak-anak memutuskan mengikuti tantangan tersebut, tidak ada salahnya orangtua pun menjalani tantangan yang sama, tentu dengan nominal lebih besar.

 

Bikin bahagia

Survei yang dilakukan Ally Bank pada 2013 mendapati fakta, orang akan merasa jauh lebih senang dan bahagia ketika terbukti mampu menyisihkan uang. Setidaknya, 84 persen dari 1.025 responden survei itu menyatakan hal tersebut.

Perasaan itu bahkan disebut lebih menyenangkan dibandingkan saat memakan makanan sehat, makanan enak, mendapat pekerjaan yang menyenangkan, atau alasan lainnya. Anak-anak bukan perkecualian atas rasa ini.

Lalu, untuk apa uang terkumpul? Tanamkan sejak dini bahwa perencanaan dan pengelolaan keuangan penting untuk masa depannya.

Tentu, cara menyisihkan uang tak hanya satu. Anak-anak boleh memilih langkah yang menurut mereka paling menyenangkan, termasuk lewat asuransi.

Orangtua juga bisa memupuk pemahaman bahwa hal tersebut bisa dijadikan investasi yang dapat melindungi keluarga dari risiko pada masa depan. Misalnya, untuk memastikan biaya pendidikan anak terjamin sampai level sarjana.

Investasi pendidikan anak seperti itu dapat ditemukan salah satunya di layanan AXA Mandiri & AXA—yang memiliki fasilitas asuransi pendidikan konvensional maupun syariah—untuk menjawab kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan.

Bila orangtua sudah memanfaatkan asuransi pendidikan ini, tak ada salahnya anak-anak mendapat pengenalan tentangnya juga. 

kompas